Mengapa Universitas di Jerman Memiliki Peringkat yang Rendah?

Beberapa pertanyaan terbaru yang di terima para alumni Jerman di Lembaga Alumni Eropa (LAE) Jakarta diantaranya adalah, Mengapa Universitas di Jerman Memiliki Peringkat yang Rendah? jawaban dari pertanyaan tersebut kami yakini akan terjawab setelah anda menbaca artikel berikut ini.

Kuliah di luar negeri merupakan impian bagi banyak anak muda di Indonesia saat ini. Selain karena ingin merasakan pengalaman hidup yang berbeda di negara asing, alasan lainnya adalah karena kampus-kampus di luar negeri banyak yang memiliki kualitas lebih tinggi dari kampus di Indonesia.

Tentu saja disini kita berbicara tentang Amerika Serikat, Australia, Eropa, Jepang, Singapura, dan negara maju lainnya.

Cara yang paling mudah untuk melihat kualitas sebuah kampus adalah dengan melihat peringkat universitas tersebut melalui lembaga ranking universitas internasional seperti World University Ranking oleh Times Higher Education, Academic Ranking of World Universities oleh Universitas Shanghai China, dan QS World University Ranking oleh Top Universities.

Pemberian peringkat ini pun dilakukan dengan melihat berbagai macam aspek seperti reputasi akademik dan pengajar, banyaknya jurnal ilmiah yang dihasilkan berikut dengan kutipannya, karir para alumni, kesetaraan gender, dan lain sebagainya.

Sistem pemeringkatan tersebut melontarkan beberapa nama kampus ke ranking teratas dan menjadikan universitas tersebut sekolah favorit di negaranya.

Sebut saja di Amerika Serikat ada Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford, Harvard dan kampus Ivy League lain yang menempati posisi teratas di negara tersebut.

Jika kita berbicara tentang Inggris, ada Oxford dan Cambridge. Swiss memiliki ETH Zurich dan Singapura memiliki National University of Singapore dan Nanyang Technological University of Singapore. Ke semua universitas yang disebutkan di atas berhasil menembus peringkat 50 besar sebagai universitas terbaik di dunia.

Lalu bagaimana dengan Jerman?

Ternyata tidak ada satu pun universitas di Jerman yang berhasil menembus peringkat 30 besar dalam sistem ranking manapun. Berdasarkan QS World University Ranking 2018, TU Munchen menempati posisi teratas sebagai kampus terbaik di Jerman dan hanya menempati posisi ke 64.

Sementara menurut peringkat dari Shanghai, Universitas Heidelberg menempati posisi ke 42. Terakhir, menurut Times Higher Education, LMU Munchen menempati posisi ke 34. Ketiga universitas tersebut pun juga kalah populer dengan universitas-universitas terbaik di negara lain. Mereka tidak menjadi trademark pendidikan di Jerman.

Lalu apakah ini berarti Jerman, negara yang sering menjadi kiblat inovasi teknologi ini memiliki sistem pendidikan tinggi yang kurang baik? Padahal Albert Einstein, Max Planck, Werner Heisenberg, Wilhel Röntgen, Gustav Ludwig Herz dan Alexander Von Humboldt adalah lulusan-lulusan Jerman.

Nyatanya, universitas-universitas di Jerman tidak terlalu peduli dengan sistem pemeringkatan tersebut. Ada beberapa alasan. Yang pertama, mari kita akui bahwa kampus seperti MIT, Harvard, dan Columbia memiliki biaya kuliah yang sangat mahal.

Jika kamu tidak sangat pintar untuk mendapatkan beasiswa, kamu harus berasal dari keluarga yang kaya untuk bisa membayar biaya kuliahmu atau mengambil pinjaman dari bank. Di sini kita lihat bahwa pendidikan di Amerika masih merupakan barang mahal dan target pasarnya adalah kelompok elite saja.

Hal ini berbeda dengan Jerman yang melihat pendidikan sebagai investasi publik sehingga siapa saja bisa kuliah gratis, termasuk mahasiswa internasional. Bukan berarti karena harga yang murah sehingga kampus di Jerman memiliki kualitas yang rendah, tapi institusi di Jerman tidak menginvestasikan uangnya hanya untuk melakukan aktivitas yang bisa meningkatkan ranking kampus mereka di kancah internasional.

Malahan mereka menolak sumber dana yang berasal dari pihak ketiga yang dapat mengganggu kemandirian dan ketidakberpihakkan institusi pendidikan. Dan kalau pun mereka mulai memikirkan reputasinya dari sekarang, mereka butuh waktu yang lama untuk bisa mengalahkan Harvard.

Jika Amerika punya Harvard, Australia punya Monash, dan Prancis punya Sorbonne sebagai kampus yang memiliki peringkat tinggi di negara masing-masing, maka agak susah untuk menyebutkan kampus terbaik di Jerman.

Hal itu karena hampir semua kampus di Jerman itu berkualitas dan tidak ada perbedaan yang mencolok antara satu kampus dengan kampus yang lainnya. Tidak ada istilah “kampus elit” atau “universitas favorit” di sana.

Mari kita katakan begini: bahkan kampus yang ada di desa-desa kecil pun berkualitas. Ambil contoh Universitas Göttingen di Göttingen yang penduduknya hanya 100 ribu orang, tidak kalah dengan Humboldt University di Berlin yang penduduknya lebih dari 3 juta orang.

Göttingen melahirkan 13 peraih Nobel sementara Berlin melahirkan 15 peraih Nobel.

Sekali lagi hal tersebut karena Jerman melihat pendidikan sebagai investasi publik, sehingga orang desa ataupun kota harus memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

Alasan lainnya adalah riset yang dilakukan. Di Jerman, riset tidak hanya dilakukan oleh universitas, tapi juga oleh banyak lembaga riset dan badan pemerintah.

Banyaknya pekerja yang bergelar doktor di lembaga-lembaga tersebut membuat pemerintah tidak perlu selalu bekerja sama dengan universitas untuk melakukan sebuah riset yang berkualitas.

Lembaga tersebut juga memiliki kemampuan untuk melakukan riset yang baik.

Selain itu, meskipun trendnya berubah, masih banyak hasil riset yang dipublikasikan dalam Bahasa Jerman, sehingga membuat riset menjadi eksklusif untuk mereka yang mengerti Bahasa Jerman saja.

Banyak mahasiswa di Jerman yang tidak peduli pada ranking universitas tempat mereka belajar. Mereka lebih melihat kualitas jurusan di kampus tersebut.

Misalnya jika seseorang ingin belajar kedokteran maka mereka sebaiknya belajar di Charité Berlin. Jika ingin belajar hukum, tentu akan berbeda jika seseorang belajar di München atau Rostock.

Pada akhirnya, ranking universitas adalah kontes kecantikan dalam bidang akademik. Setiap lembaga ranking memiliki kriterianya masing-masing untuk memeringkatkan universitas yang ada.

Ada variabel-variabel yang dilihat, namun ada juga variabel penting yang tidak dilihat seperti misalnya seberapa banyak pengetahuan yang benar-benar mahasiswa dapatkan atau bagaimana dukungan emosional terhadap mahasiswa yang mengalami tekanan.

Kuliah di kampus yang memiliki nama besar tentulah membuat gengsi kita meningkat.

Tapi selain gengsi, ada lagi faktor yang lebih penting ketika ingin belajar di universitas, yaitu kita harus suka apa yang kita pelajari.

** Andreas G.

 

=======================================================


PEMBUKAAN KELAS BARU

PROGRAM INTENSIF PERSIAPAN KULIAH di JERMAN

Untuk Semua Bidang Studi S-1 (BSc.) dan S-2 (MSc.)

Kelas Baru akan diadakan pada:

 

Hari/Tanggal : Senin / 6 Januari 2020

 

Jam : 09.00 s/d 13.00 WIB
Tempat : Lembaga Alumni Eropa
Jln. Alam Asri V/21 Pondok Indah Jakarta Selatan, 12310 Indonesia

Keterangan lebih lanjut Hubungi:

WA & Line: 0813 8480 9179 - 0813 1811 1017

Daftarkan Diri Anda Segera

Tempat Terbatas !!

This entry was posted in Persiapan Melanjutkan Studi di Jerman and tagged , , . Bookmark the permalink.