Memahami Perbedaan Konsep Pendidikan Saat Kuliah di Luar Negeri Setelah Lulus SMA

para-mahasiswa-Indonesia-di-jerman-ke-pasar-ikan-Hamburg-saat-kuliah-di-luar-negeri-setelah-lulus-sma-melalui-lembaga-alumni-eropaSaat Kuliah di Luar Negeri Setelah Lulus SMA banyak mahasiswa asal Indonesia yang dapat merasakan perbedaan konsep pendidikan yang ada di dalam negeri dengan yang sedang mereka jalani di luar negeri. Padahal sesungguhnya bangsa ini telah memiliki konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep beliau itu mengedepankan tiga faktor, yaitu “ngerti” (cognitive domain), “ngrasa” (affective domain), dan “nglakoni” (psychomotor domain).

Sebuah artikel menarik dari kompas.com yang ditulis oleh Indy Hardono mungkin dapat membantu kita untuk melakukan sedikit komparasi antara konsep “Ki Hajar Dewantara” dengan konsep “barat”. Tentu sebagai sedikit bekal bagi anda yang akan Kuliah di Luar Negeri Setelah Lulus SMA 2014 ini.

Ki Hajar mencetuskan konsep “ngerti” (cognitive domain), “ngrasa” (affective domain), dan “nglakoni” (psychomotor domain) ini sejak 20 tahun sebelum konsep Blomm’s Taxonomy (cognitive, affective, and psychomotor) yang terkenal itu diperkenalkan oleh Benjamin Blomm, seorang psikolog pendidikan pada 1956. Dari analisis singkat setelah membaca beberapa referensi tentang Ki Hajar Dewantara, cukup banyak pertanyaan dan kegalauan terhadap sistem pendidikan nasional kita yang mulai terjawab.

Mengapa sistem assesment seperti ujian nasional (UN), yang dengan sistem multiple choice dan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat hanya menguji sisi kognitif (“ngerti”) tidak bisa mengukur kualitas murid secara keseluruhan? Kenapa sistem hafalan mati masih dikedepankan, termasuk hafalan ayat-ayat dari kitab suci yang sekali lagi hanya kental dengan muatan kognitif tanpa unsur “rasa”, apalagi unsur “nglakoni” (psikomotorik)?

Pun, satu pertanyaan, kenapa hampir tidak ada universitas di Indonesia yang mensyaratkan motivation statement sebagai salah satu syarat utama dalam sistem seleksi, dan hanya mengedepankan sistem tes “cap, cip, cup” yang hanya melihat (lagi-lagi) dari sisi kognitif semata? Padahal, dari suatu motivation statement itulah kita dapat menggali sisi “rasa” —a state of being— karena “rasa” bukan cuma berhubungan dengan pancaindra, tetapi juga intelectual “rasa” dan social “rasa”.

Maka, terjawab sudah alasan tingkat educated unemployment di negara kita, yang konon kabarnya mencapai tingkat 12 persen, dikarenakan adanya mismatch antara job market dengan output dari perguruan tinggi yang sistem pengajaran (lagi-lagi) masih berorientasi ke hal yang sekadar “ngerti” (kognitif), tetapi bukan ilmu yang dapat langsung diaplikasikan (“terlakoni”).

Juga, terjawab sudah mengapa banyak pelajar Indonesia di luar negeri menemui kesulitan pada saat berhubungan dengan academic writing. Ya, karena pelajar kita terbiasa belajar tanpa diberikan ruang untuk berpikir kritis, belajar tetapi dengan hafalan dan materi yang bertumpuk. Anak-anak kita tidak dibiasakan berpikir analitis dengan metode assesment yang hanya menghendaki satu jawaban. Kita kemudian menjadi sangat gagap pada saat yang diuji, bukan cuma faktor kognitif.

Selain itu, juga sudah terjawab, mengapa belum ada satu universitas kita yang bisa masuk ke peringkat 100 atau 200 perguruan tinggi dunia, yakni karena kita banyak keteteran di bidang riset sebagai salah satu kriteria dan penilaian utama.

Berdasarkan informasi dari para praktisi pendidikan tinggi dan hasil observasi secara umum, ternyata masih banyak riset perguruan tinggi kita berorientasi untuk sekadar mengejar kenaikan jabatan akademik ketimbang berorientasi pada kualitas riset yang bisa diaplikasikan (“nglakoni”). Maka melanjutkan Kuliah di Luar Negeri di Jerman setelah Lulus SMA mutlak menjadi pertimbangan juga kan?

 

==============================================================


"OPEN REGISTRATION"

Program Persiapan Studi S1/S2 & Kerja Sosial di Jerman

Yth Para Calon Peserta,


Lembaga Alumni Eropa kembali akan membuka kelas persiapan bahasa Jerman bagi mereka yang akan melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negri untuk semua jurusan studi, serta persiapan bahasa bagi peminat kerja sosial di Jerman.


Pendaftaran program online akan di buka hingga tanggal 22.08.2020.

Pendaftaran Klik disini


Program Study Start Senin 24.08.2020


Program kerja sosial Start Senin 24.08.2020


Program persiapan bahasa Jerman akan dimulai pada tanggal 24.08.2020.


Bertempat di Training Center LAE, Jln. Alam Asri V No 21. Pondok Indah. Jakarta Selatan.


Informasi lebih lanjut terkait program ini dapat menghubungi melalui WA di no +6281384809179 dan +6281317692139


Demikian informasi yang dapat kami sampaikan.


Terima kasih atas perhatiannya.


Hormat Kami,

Lembaga Alumni Eropa – Jakarta

==============================================================


PEMBUKAAN KELAS BARU

PROGRAM INTENSIF PERSIAPAN KULIAH di JERMAN

Untuk Semua Bidang Studi S-1 (BSc.) dan S-2 (MSc.)

Kelas Baru akan diadakan pada:

 

Study Class : Senin / 24 Agustus 2020 dan SozialWork Class: Senin / 24 Agustus 2020

 

Jam : 09.00 s/d 13.00 WIB
Tempat : Lembaga Alumni Eropa
Jln. Alam Asri V/21 Pondok Indah Jakarta Selatan, 12310 Indonesia

Keterangan lebih lanjut Hubungi:

WA & Line: 0813 8480 9179 - 0813 1769 2139

Daftarkan Diri Anda Segera

Tempat Terbatas !!

This entry was posted in Alasan Kuliah di Jerman, Keunggulan Studi Di Jerman, Pentingnya Pendidikan Tinggi, Studi di Belanda, Studi di Italia, Studi di Jerman, Studi di Perancis and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.